![]() |
| Workshop Aksara Kawi |
Workshop ini merupakan program perdana Komunitas Bojonegoro History dan direncanakan akan menjadi agenda tahunan. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi alternatif edukasi dalam memahami sejarah serta memperkuat kesadaran pelestarian budaya lokal.
Ketua panitia, Gema Romadhoni, menyampaikan bahwa workshop ini menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat Bojonegoro untuk bersama-sama membangun ekosistem pembelajaran yang partisipatif dan inklusif. Menurutnya, kelas ini dihadirkan sebagai upaya mengenalkan kembali aksara Kawi yang selama ini belum banyak dipelajari di daerah.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang setara, di mana semua peserta dapat memahami lebih jauh aksara Kawi sebagai bagian penting dari sejarah dan kebudayaan,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan mentor Juan Steven Susilo, alumni Arkeologi Universitas Udayana, yang mengapresiasi semangat para peserta. Ia menilai antusiasme komunitas di Bojonegoro menjadi modal penting dalam mengembangkan kajian sejarah berbasis masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai pada hari pertama dengan pengenalan dasar-dasar aksara Kawi, mulai dari bentuk huruf, karakter, hingga latihan membaca dan menulis.
Pada hari kedua, peserta dibekali materi teknik riset dan pendataan objek diduga cagar budaya, yang dilanjutkan dengan praktik langsung di sekitar lokasi workshop.
![]() |
| Setelah Riset Lapangan |
Memasuki hari ketiga, peserta melakukan riset lapangan ke Situs Jipangulu di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Di lokasi tersebut, peserta belajar mengidentifikasi kawasan situs serta menelusuri temuan benda purbakala seperti fragmen gerabah, keramik, batu bata merah, hingga batuan yang diduga bagian dari struktur candi. Kegiatan ditutup dengan proses pendataan temuan secara menyeluruh.
Salah satu peserta, Anif Musyafa’ah Harnianti, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang berkesan selama mengikuti workshop ini. Ia menyampaikan bahwa belajar aksara Kawi menjadi pengalaman pertamanya dan terasa menyenangkan karena suasana kelas yang santai namun tetap fokus.
“Ini pertama kali saya belajar aksara Kawi, dan ternyata seasik ini. Suasananya santai, tidak terlalu formal, jadi lebih mudah fokus dan benar-benar menikmati proses belajarnya,” ungkapnya.
Melalui workshop ini, Komunitas Bojonegoro History berharap dapat menumbuhkan minat generasi muda dalam mempelajari sejarah dan budaya lokal, sekaligus mendorong lahirnya kegiatan serupa di masa mendatang.

